Bulukumba Diubah oleh Gerakan atau Karakter

Oleh : Syamsul Bahri Majjaga (Direktur Batara Mungku Institute)

“Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Andi Muchtar Yusuf dan Andi Edy Manaf”

MENARAINDONESIA.com-Awal postmodernisme ditandai dengan revaluasi nilai-nilai yang telah lama menjadi aturan pada masyarakat era modern.

Kata modernisme mengandung makna serbamaju, gemerlap, dan progresif. Pengertian ini tidak berlebihan, karena modernisme berkaitan dengan bentuk-bentuk kebudayaan yang ditandai dengan rasionalisme, positivisme, empirisme, industri, dan kecanggihan teknologi.

Dengan ciri-cirinya tersebut, Chris Barker dalam Cultural Studies; Teori dan Praktik, menyebut modernisme menyuguhkan suatu keadaan yang selalu berubah dan tidak pasti.

Modernisme selalu menjanjikan pada kita untuk membawa perubahan ke dunia yang lebih mapan di mana urusan materi atau kebutuhan jasmani akan terpenuhi, tidak akan ada lagi kelaparan atau kekurangan material.

Lantas Bagaimana dengan Bulukumba, siapa sesungguhnya orang Bulukumba itu? Mereka yang melahirkan perubahan, mengubah situasi, atau yang tak berpaling kecuali pada tujuannya?

Saat ini, siapa yang menyangka kalimat itu menjadi argumen agnostik dikirim untuk merefleksikan setahun pemerintahan Andi Muchtar Yusuf bersama Andi Edy Manaf.

Argumen itu memburu jawaban atas pertanyaan yang paling panrita: dari mana asal usul harapan kita dimulai?

Satu tahun pemerintahan Bulukumba, penulis ingin menambah kalimat itu lewat satu pertanyaan yang sangat politis: akankah Bulukumba terus dibiarkan sebagai tata sosial yang harmoni di bawah ancaman dan sentimental yang bernama luka pilkada?

Benarkah itu?

Ini soal yang menyulut harapan lama. Perubahan. Kalau memang perubahan diubah oleh seseorang, lalu apa yang membuat seseorang Bulukumba tak memilih untuk berbuat bajik yang memilih untuk tidak berbeda, berpihak hanya pada hati nurani, dan meyakini kalau keadaan apa pun bisa diubah oleh Karakter.

Argumentasi ini tak bermaksud untuk diperdebatkan, tapi sekali lagi, itu ajakan untuk menggali tiap sudut kemapanan karakter dari seorang Andi Muchtar Yusuf. Seorang yang lahir dari keluarga bangsawan punya kesempatan untuk mengukir jejak sejarah baik dan bajik untuk tanah kelahirannya.

Benarkah Beliau dibimbing oleh karakter yang kuat atau situasi saat ini yang membuat karater lahiriah dari pemimpin Bulukumba itu raib? Mari kita uji.

Keinginannya adalah memberi contoh untuk kehidupan sebelum dan sesudah kepemimpinannya. Melihat setahun Bulukumba dari sini, maka, kita akan menemukan satu sikap yang akan mengkonfirmasi kalimat judul. Bahwa, Bicara tak banyak gunanya ketika hanya luapan retorika. Janji tak pernah ada gunanya kalau tak ditepati. Komitmen tak banyak dampaknya kalau kita tak tahu apa prioritas yang penting untuk ditangani.

Lewat keteladan ini, setahun perjalanan Andi Muchtar Yusuf, diakui atau tidak, kita mendapati berbagai contoh ideal, tapi kita mungkin harus mengakui kalau untuk seorang kepala daerah, yang diperlukan bukan sekedar keyakinan tapi juga support lingkungan. Itulah yang hilang hari ini di lingkungan beliau.

Tulisan ini usaha sederhana dari penulis untuk menyadari, membawanya kembali dan melakukannya secara bersama. Bahwa orang baik tak harus berasal dari utusan Tuhan, tapi manusia biasa yang peduli, empati, dan peka. Kita pun bisa memilikinya dan Andi Muhtar Yusuf setahun kepemimpinannya sedang kehilangan orang-orang semacam itu.

Terakhir, mungkin setahun perjalanan kepemimpinan beliau, waktunya untuk setiap dari seorang yang Bulukumba sadar, jika perlu. Bawa kembali Andi Utta ke semangat awal kegelisahannya.

Membangun Bulukumba dengan ragam kisah kebesaran yang pernah di tapaknya sebagai tanah para panrita. Dimana Saya, Anda dan Kita semua akan melewati hidupnya tata sosial ke Bulukumbaan kita dengan cara memukau.

Leave a Reply