MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) menghadirkan inovasi Smart Urban Farming berbasis Internet of Things (IoT) dan tenaga surya sebagai solusi ketahanan pangan di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Program yang diketuai oleh dosen UNM, Dr. Ir. Muhammad Riska, S.Pd., M.Pd., tersebut diterapkan di Lorong RT 006 RW 011, Kelurahan Buntusu, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, dengan menggandeng Kelompok Masyarakat Pemerhati Lingkungan (KMPL 251) sebagai mitra pelaksana.
Inovasi ini menggabungkan sistem budidaya tanaman dan perikanan dalam satu ekosistem tertutup melalui metode smart vertical aquaponic. Teknologi tersebut dirancang untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang sempit di kawasan permukiman padat sekaligus mendukung kemandirian pangan masyarakat.
Muhammad Riska menjelaskan, keunggulan utama program ini terletak pada integrasi teknologi IoT dengan sumber energi mandiri berbasis panel surya yang mampu menekan biaya operasional sistem pertanian perkotaan.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan. Dengan dukungan IoT dan tenaga surya, masyarakat dapat mengelola sistem budidaya secara efisien tanpa bergantung pada pasokan listrik konvensional,” ujar Muhammad Riska.
Sistem yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 dengan algoritma Adaptive Duty Cycle (ADC) yang memungkinkan pompa air bekerja secara otomatis berdasarkan kondisi daya baterai secara real-time. Teknologi tersebut dirancang agar tetap beroperasi optimal meski kapasitas penyimpanan energi terbatas.
Selain fokus pada produksi pangan, program ini juga mengusung konsep zero waste melalui pengelolaan limbah rumah tangga berbasis ekonomi sirkular. Warga diberikan edukasi mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya serta beracun (B3).
Sampah organik kemudian diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) menggunakan komposter, sementara sampah anorganik seperti botol plastik dimanfaatkan kembali sebagai wadah tanam vertikal maupun media penyaring air dalam sistem aquaponik.
“Kami tidak hanya membangun sistem pertanian, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan. Sampah yang selama ini menjadi masalah dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai dan mendukung keberlanjutan program,” tambahnya.
Program pengabdian masyarakat tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan Akhyar Muchtar dari bidang Teknik Elektro dan Reski Praja Putra dari bidang Pertanian, serta didukung oleh sejumlah mahasiswa UNM.
Melalui penerapan teknologi tepat guna ini, tim pengabdi menargetkan peningkatan kemandirian pangan masyarakat perkotaan, pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil, serta penurunan volume sampah rumah tangga hingga 50 persen.
Program Smart Urban Farming juga dinilai sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, pemanfaatan energi bersih, dan pengurangan dampak perubahan iklim di kawasan perkotaan.
Leave a Reply