Beringin Golkar, Air Thales, dan 191 Umbul di Klaten

Oleh: Baharuddin Hafid
(Sekretaris Pemenangan Pemilu Partai Golkar Sulawesi Selatan)

MENARAINDONESIA.com-Mengapa Golkar memilih pohon beringin sebagai lambangnya Selama ini kita menjawabnya secara normatif: karena beringin rindang, mengayomi, akarnya banyak, usianya panjang.

Tapi video tentang 191 umbul di Klaten  memberi jawaban yang jauh lebih filosofis. Dan jawabannya ditemukan 2.600 tahun lalu oleh Thales.

Thales, filsuf pertama, berkata: Air adalah Arche – asal mula segala sesuatu.

Di Klaten, pembuktian Thales itu terlihat telanjang. Umbul yang tak pernah kering meski kemarau panjang, selalu dijaga oleh satu pohon: beringin. Cabut beringinnya, mati umbulnya.

Riset menjelaskan: akar beringin memiliki hydraulic conductance yang tidak dimiliki pohon lain. Ia bukan penghisap air, ia adalah penyimpan dan pembagi air. Siang ia simpan, malam ia bagikan. Daunnya memperbaiki tanah, akarnya membuka mata air. 30% tutupan beringin mendinginkan 70% kawasan.

Beringin adalah pabrik air.

Di sinilah logika simbol Golkar menjadi sangat dalam.

1. Golkar Memilih Beringin Karena Golkar Ingin Menjadi Air

Jika Thales benar bahwa segala sesuatu berasal dari air, maka partai yang memilih beringin sebagai lambang sesungguhnya sedang mendeklarasikan diri: Kami ingin menjadi sumber air.

Bukan sekadar partai yang menaungi seperti atap. Beringin Golkar yang sejati adalah partai yang menghidupkan. Seperti umbul di Klaten yang menghidupi sawah, ikan, dan warga, partai beringin seharusnya menghidupi lapangan kerja, pendidikan, dan ekonomi rakyat.

Beringin tanpa air adalah pohon angker yang ditakuti karena genderuwonya. Beringin dengan air adalah umbul yang dipuja karena kehidupannya. Selama ini Golkar terlalu bangga menjadi pohon yang besar dan rindang, tapi lupa memastikan apakah di bawahnya masih ada air yang mengalir untuk rakyat.

2. Akar Beringin Adalah Filsafat Kaderisasi Golkar

Video itu menyebut, beringin berbeda dengan sengon. Sengon akarnya dangkal, rakus, setelah panen tanah jadi kering. Beringin akarnya dalam, menembus akuifer, mencari sumber terdalam.

Inilah yang hilang dari Golkar di era pemilu terbuka.

Di sistem terbuka, kita seperti menanam sengon: cari caleg yang populer instan, yang punya uang banyak, tebang langsung. Cepat panen, tapi setelah pemilu tanah politik kering, basis hilang.

Filsafat beringin Thales mengajarkan sebaliknya: Tanam akar dulu, air akan datang sendiri. Kaderisasi yang dalam, yang menembus sampai lapisan masyarakat paling bawah, itulah akar yang akan menemukan mata air suara.

Golkar yang memotong akarnya sendiri dengan jual-beli nomor urut, dengan memotong kader bawah demi dinasti, sama saja menebang beringin di atas umbulnya sendiri. Ia akan kekeringan.

3. Mitos Beringin Adalah Disiplin Partai

Leluhur Klaten menjaga beringin bukan dengan Perda, tapi dengan mitos: “Jangan tebang, ada penunggunya.”

Golkar menjaga beringin bukan dengan sekadar AD/ART, tapi dengan ideologi kekaryaan.

Dulu, orang takut menebang beringin. Hari ini, orang takut mengkhianati karya. Itulah disiplin.

Jika hari ini ada kader Golkar yang ikut campur urusan internal partai lain, yang melompat-lompat, yang lupa bahwa tugas beringin adalah menjaga airnya sendiri, bukan mengurusi air di umbul orang lain, maka ia telah menebang makna beringin itu.

Penutup: Kembali Menjadi Umbul

62 Tahun Golkar bukan diukur dari seberapa besar dan rindang pohonnya. Tapi dari seberapa banyak umbul yang masih hidup di bawahnya.

Jika Thales datang ke Kantor DPP Golkar di Slipi, atau ke DPD Gokar Provinsi Se-Indonesia ia tidak akan bertanya berapa kursi yang menang. Ia akan bertanya: “Di mana airmu?”

Jawaban atas krisis Golkar hari ini ada di Klaten. Jangan hanya jaga logo beringin di baliho. Jaga beringin yang sesungguhnya yang menyimpan air.

Karena partai tanpa air, seperti kata Thales, akan mati. Tapi beringin yang menjaga air, ia akan hidup selamanya, seperti 191 umbul itu.

Dirgahayu Golkar. Jadilah beringin yang berair.

Leave a Reply