Gapensi Minta BUMN Tidak Rusak Ekosistem Bisnis Konstruksi di Sulsel

Sekretaris Gapensi Sulsel Muhammad Natsir

MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) mengharapkan keberpihakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar tetap konsisten pada porsinya, sehingga dapat membangkitkan industri konstruksi menengah dan kecil seusai pandemi Covid-19.

Sekretaris Gapensi Provinsi Sulawesi-Selatan (Sulsel), Muhammad Natsir mengatakan, dasar pertimbangan permintaan tersebut adalah bahwa selama pandemi Covid-19 melanda kegiatan usaha pelaku usaha konstruksi mengalami penurunan tajam. Terlebih lagi, jika BUMN masuk ke porsi pekerjaan dibawah 100M maka akan membuat persaingan tidak sehat di dunia konstruksi.

“Gapensi minta agar BUMN tetap pada porsinya mengerjakan paket pekerjaan diatas 100M atau yang membutuhkan peralatan/perlakuan khusus, jika BUMN masuk ke porsi pekerjaan dibawah Rp.100M maka akan membuat persaingan tidak sehat di dunia konstruksi, kontraktor kecil dan menengah akan kehilangan potensi pekerjaan”, ujar Sekretaris Gapensi Sulsel, Muhammad Natsir. Rabu (26/01/2022).

Menurutnya, saat pandemi Covid-19 berlangsung dan pemerintah melakukan refocusing anggaran yang terjadi adalah peluang tumbuh pelaku usaha jasa konstruksi menjadi gamang. Sementara, Pelaku usaha jasa konstruksi kecil dan menengah lokal hanya bergantung pada anggaran dibawah Rp.100 Milyar.

Natsir menuturkan, jika BUMN juga mengerjakan paket tender dengan nilai anggaran dibawah Rp.100 Milyar, kata dia, maka situasi ini tidak memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha jasa kontruksi lokal untuk meningkatkan daya saing dengan produk pekerjaan konstruksi berkualitas dan berkelanjutan.

“Saat pandemi dan refocusing anggaran APBN/APBD peluang tumbuh kontraktor menjadi gamang, kontraktor lokal hanya bergantung pada anggaran dan paket tender yang tersedia dimana nilainya dibawah Rp.100M. Jika BUMN masuk ke porsi yang ada saat ini maka kontraktor lokal yang dominan menengah dan kecil akan kehilangan kesempatan untuk bekerja disektor konstruksi”, sebutnya.

Oleh karena hal tersebut, secara langsung berakibat multiplayer effek pada pindasi ekonomi lokal.

“Hal ini akan berakibat multiplayer effek pada pindasi ekonomi lokal, tenaga kerja lokal akan tidak terserap dengan baik, bisnis penyewaan peralatan konstruksi akan vakum karena BUMN punya alat sendiri, berimbas juga ke belanja material lokal dan pabrikasi sebab BUMN sudah punya market stock material yg terpusat, dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi sektor kontruksi oleh pemain lokal terhambat”, pungkasnya.

Leave a Reply