MAROS,MENARAINDONESIA.com-Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai 9,54 persen secara year on year (YoY), menjadikannya sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Sulawesi Selatan. Capaian tersebut menjadi modal positif menjelang peringatan Hari Lahir (Harlah) Kabupaten Maros ke-67 yang akan diperingati pada 4 Juli 2026.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang mendekati dua digit tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha dalam mendorong pembangunan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya dan religius yang menjadi karakter masyarakat Maros.
“Pertumbuhan 9,54 persen pada Triwulan I Tahun 2026 ini adalah kado terindah menjelang Hari Lahir Kabupaten Maros. Capaian ini membuktikan bahwa Maros mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memanfaatkan teknologi, dan mempercepat transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya maupun religius yang menjadi jati diri masyarakat kita,” ujar Chaidir Syam.
Berdasarkan hasil analisis Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Maros, pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh meningkatnya efisiensi dan digitalisasi pada sektor transportasi dan pergudangan yang terhubung dengan kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Selain itu, peningkatan investasi di sektor properti serta industri pengolahan berbasis teknologi turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Capaian tersebut dinilai semakin memperkuat posisi Kabupaten Maros sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi strategis di Sulawesi Selatan yang didukung oleh konektivitas wilayah, iklim investasi yang kondusif, serta pengembangan inovasi pelayanan publik.
Sementara itu, Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diiringi dengan pemerataan manfaat pembangunan agar dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Menyambut Harlah ke-67 Kabupaten Maros, tantangan kita berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi 9,54 persen ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke tingkat desa. Melalui peran Bapperida, riset dan inovasi harus menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Muetazim, pembangunan daerah ke depan perlu difokuskan pada sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pertanian, pariwisata berbasis kawasan karst, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kualitas pelayanan publik melalui transformasi digital.
“Kita ingin memastikan bahwa kemajuan teknologi menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Digitalisasi harus memperkuat sektor pertanian, mendukung pariwisata, mempercepat pelayanan publik, serta tetap memuliakan nilai-nilai budaya dan keagamaan yang menjadi karakter masyarakat Maros. Kita maju bersama teknologi tanpa kehilangan identitas sebagai orang Maros,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Maros menargetkan pertumbuhan ekonomi yang dicapai dapat menjadi fondasi bagi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan tema Hari Lahir Kabupaten Maros ke-67, “Merawat Tradisi”, pemerintah daerah berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.
Leave a Reply