MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) melaksanakan praktik lapangan di Puskesmas Kassi-Kassi, Kota Makassar, guna meninjau pelaksanaan sistem surveilans kanker serviks.
Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Analisis dan Praktikum Surveilans yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, S.KM., M.Kes., MSc.PH, dan berlangsung sejak Maret hingga Mei 2025.
Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa mengenai sistem pemantauan terhadap kanker serviks di tingkat layanan primer. Surveilans dianggap penting dalam mengidentifikasi pola sebaran kasus, tren waktu, serta mengevaluasi efektivitas program deteksi dini dan penanganan penyakit di masyarakat.
Berdasarkan hasil pengumpulan data dari tahun 2022 hingga 2024, kelompok mahasiswa mencatat bahwa kelompok usia 45 hingga 54 tahun merupakan yang paling banyak terdampak di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi. Tahun 2024 mencatat prevalensi tertinggi yakni 1,19 kasus per 10.000 perempuan, meskipun tidak ditemukan angka kematian akibat penyakit tersebut.
Puskesmas Kassi-Kassi telah secara aktif menjalankan program deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA dan Pap Smear yang ditujukan kepada perempuan berusia 30–69 tahun. Pelayanan ini sebagian besar difasilitasi oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan selaras dengan target nasional dalam Rencana Eliminasi Kanker Serviks 2023–2030.
Sistem surveilans di puskesmas tersebut dinilai cukup baik. Proses pelaporan dilakukan secara berjenjang, menggunakan perangkat sederhana seperti Microsoft Excel, dan hasil surveilans disampaikan secara berkala melalui forum lokakarya mini lintas program dan sektor.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih ditemui, di antaranya kurangnya pelatihan teknis bagi petugas surveilans untuk penanganan kanker serviks serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengikuti pemeriksaan dini karena stigma, rasa malu, dan kurangnya pengetahuan.
“Deteksi dini sangat penting agar kanker serviks bisa ditemukan sebelum berkembang ke stadium lanjut. Dengan begitu, peluang untuk sembuh lebih besar,” ujar Tri Vonya, salah satu mahasiswa peserta praktikum.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa merekomendasikan peningkatan pelatihan teknis bagi tenaga kesehatan, penguatan edukasi masyarakat, serta perluasan cakupan skrining rutin agar target eliminasi kanker serviks dapat tercapai secara optimal.
Kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan masyarakat dalam memperkuat sistem pencegahan dan pengendalian kanker serviks yang menjadi ancaman nyata bagi kesehatan perempuan di Indonesia.
Leave a Reply