MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Fakultas Teknik memberikan pelatihan teknologi konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) menggunakan LPG bagi operator perahu penyeberangan Sungai Jeneberang, jalur Desa Taeng–Malengkeri Makassar.
Kegiatan bertajuk “Penerapan Teknologi Konversi BBM ke BBG pada Mesin Perahu Penyeberangan Sungai Jeneberang sebagai Upaya Efisiensi Energi dan Pengurangan Emisi” tersebut melibatkan 12 operator perahu sebagai peserta.
Program ini dilaksanakan untuk menjawab persoalan meningkatnya biaya operasional akibat penggunaan BBM. Selain memberikan pemahaman mengenai penggunaan LPG sebagai bahan bakar alternatif, pelatihan juga membekali operator dengan keterampilan dasar melakukan konversi dan mengoperasikan mesin setelah menggunakan sistem bahan bakar LPG.
Ketua tim pelaksana, Ahmad Kurniawan, S.Pd., M.Pd., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya UNM menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kami ingin teknologi yang diperkenalkan tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dapat diterapkan dan dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat. Karena itu, pelatihan ini kami arahkan pada aspek teknis, efisiensi energi dan keselamatan penggunaan LPG,” ujar Ahmad Kurniawan.
Sebelum pelatihan, tim melakukan survei dan observasi terhadap aktivitas penyeberangan. Tim berdiskusi dengan operator untuk mengetahui pola penggunaan bahan bakar, kondisi mesin serta beban biaya operasional yang dihadapi dalam melayani masyarakat.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai mesin seri GX, sistem bahan bakar karburator, karakteristik LPG serta perbedaan penggunaan LPG dan bensin.
Operator juga diperkenalkan dengan sejumlah komponen sistem konversi, di antaranya karburator khusus LPG, reducer, regulator, selang LPG bertekanan tinggi dan tabung LPG 3 kilogram.
Setelah pembekalan teori, peserta mengikuti praktik langsung. Tahapan tersebut mencakup pelepasan karburator bensin, pemasangan karburator LPG dan reducer, pemasangan sistem throttle, pemasangan selang dan regulator, pengaturan tekanan gas hingga proses menghidupkan dan menguji mesin.
Hasil pengujian awal menunjukkan sistem dapat bekerja dengan baik. Mesin selanjutnya dipasang pada perahu untuk menjalani pengujian dalam kondisi operasional.
Berdasarkan pengujian lapangan, penggunaan LPG tidak menunjukkan perbedaan berarti dibandingkan bensin dari sisi respons mesin, tenaga, torsi maupun akselerasi. Sementara dari sisi biaya bahan bakar, penggunaan LPG tercatat lebih ekonomis, dengan perbandingan biaya sekitar dua kali lebih hemat dibandingkan bensin pada kondisi pengujian.
Program tersebut juga menunjukkan peningkatan keterampilan peserta. Dari 12 operator yang mengikuti pelatihan, sebanyak delapan orang atau 66,7 persen telah mampu melakukan proses konversi dengan baik. Sementara empat operator lainnya masih membutuhkan pendampingan teknis.
Anggota tim pelaksana, Muhammad Iskandar Musa, S.Pd., M.T., mengatakan kondisi mesin yang digunakan operator menjadi salah satu tantangan selama pelaksanaan program. Sebagian mesin berada dalam kondisi kurang ideal sehingga tim turut memberikan pemahaman mengenai perawatan dasar mesin.
Selain kondisi mesin, keterbatasan waktu juga menjadi tantangan karena operator harus tetap melayani aktivitas penyeberangan setiap hari. Untuk menyesuaikan kondisi tersebut, sejumlah sesi praktik dan pengujian dilakukan setelah aktivitas penyeberangan selesai.
Tim UNM juga menempatkan aspek keselamatan sebagai bagian penting dalam penerapan teknologi konversi BBM ke LPG. Kekhawatiran sebagian operator terhadap risiko kebakaran dan ledakan menjadi perhatian yang perlu dijawab melalui edukasi dan pendampingan.
Karena itu, tahap berikutnya akan diarahkan pada pendampingan operator yang masih membutuhkan bantuan serta sosialisasi prosedur keselamatan penggunaan LPG. Edukasi tersebut nantinya tidak hanya ditujukan kepada operator, tetapi juga kepada penumpang perahu.
Ahmad Kurniawan menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan mesin beroperasi menggunakan LPG, tetapi juga dari kemampuan operator memahami pemeriksaan, perawatan dan prosedur keselamatan.
“Teknologi harus diikuti dengan pengetahuan keselamatan. Operator perlu mengetahui cara memeriksa sistem, melakukan perawatan dasar dan menangani kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko agar penerapannya dapat berlangsung secara aman dan berkelanjutan,” jelasnya.
Melalui program PKM tersebut, UNM berharap teknologi konversi BBM ke BBG dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu operator perahu penyeberangan menekan biaya operasional. Pada saat yang sama, pemanfaatan LPG diharapkan dapat mendorong penggunaan energi yang lebih efisien pada sektor transportasi penyeberangan masyarakat.
Program ini dilaksanakan oleh tim Fakultas Teknik UNM yang terdiri atas Ahmad Kurniawan, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua, Muhammad Iskandar Musa, S.Pd., M.T. sebagai anggota, serta Rahman Alfitra sebagai mahasiswa pendamping.
Leave a Reply