KAHMI Gowa Harap Kepepimpinan Imamah di Muswil, Natsar Desi: Dilot Saja Seperti Arisan, Rata-Rata Airji

MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Sulawesi-Selatan (Sulsel) akan menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) X dalam beberapa hari kedepan, tepatnya 15-16 Januari 2022, di Novotel Hotel, Jalan Chairil Anwar Nomor 28, Kota Makassar.

Muswil KAHMI kali ini mengangkat tema “Konsolidasi Kelas Menengah Untuk Penguatan Demokrasi Ekonomi Bangsa”.

Tema ini akan menjadi topik pembahasan dalam menyusun arah kebijakan dan program KAHMI periode selanjutnya.

Rangkaian kegiatan telah dipersiapkan panitia pelaksana dalam menghadapi agenda Muswil X ini, mulai dari Seminar Nasional, hingga jalan sehat.

Selain itu, Organisasi yang menghimpun para alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari beragam kampus dan perguruan tinggi ini akan memilih koordinator presidium dan anggota presidium yang baru untuk masa bakti 2022-2026.

Koordinator Presidium (Korpres) KAHMI Kab.Gowa, Syawaluddin Rala berharap Muswil KAHMI kali ini berjalan secara lancar dan menghasilkan kepemimpinan yang generatif.

“Kepemimpinan di KAHMI itu tidak diatur secara generatif dalam arti ‘urut kacang’. Ilustrasinya adalah, dalam sebuah keluarga ada delapan anak, jika saat ini anak pertama yang memegang kendali kepemimpinan di KAHMI tidak berarti anak kedua diperiode berikutnya,” Harapnya, Rabu (12/01/2022).

Sistem kepengurusan KAHMI Sulsel, kata dia, sebaiknya menganut sistem presidensial. Sehingga kepengurusan KAHMI dapat satu komando.

“Bahkan Sebaiknya, ada loncatan-loncatan karena tidak bisa dipungkiri bahwa dikalangan KAHMI hari ini generasi 90-an yang usianya dibawah 50-an sangat banyak yang memiliki potensi dan talenta kepemimpinan. Mereka inilah yang seharusnya mendapatkan peluang kepemimpinan KAHMI kedepan. Peluang proses alih generasi 90-an ini akan lebih lancar apabila sistem kepengurusannya menganut sistem presidensial atau dalam Islam dikenal dengan konsep kepemimpinan Imamah (satu komando). Jadi bukan kepemimpinan kolektif kolegial yang tidak dikenal dalam konsep kepemimpinan Islam”, Jelas Korpres KAHMI Gowa.

Lebih lanjut, Syawaluddin mengatakan energi alumni HMI yang berusia dibawah 40 Tahun jumlahnya begitu banyak, sehingga perlu struktur khusus sebagai arena berkreasi dan berpartisipasi bagi Alumni yang berusia muda.

“Kalau perlu kepengurusan periode ini memunculkan struktur khusus KAHMI Muda sebagai arena berkreasi dan berpartisipasi, energi KAHMI Muda yang berusia 40 Tahun kebawah banjir. Bahaya, bisa ‘bah’ (red:tumpah) kalau saluran airnya mandek,” kata Syawal, sambil tertawa.

Selain itu, Syawaluddin Rala juga berharap KAHMI kedepan mampu menghadirkan Amal Usaha yang dapat berdampak positif terhadap alumni.

“Muswil harus melahirkan satu gagasan yang mampu menghadirkan banyak amal usaha seperti Rumah Sakit, Klinik, Sekolah dan lain-lain. Sehingga berdampak terhadap Alumni HMI itu sendiri. KAHMI itu hampir sama sekali tidak ada,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Makassar Era 2000-an, Dr Natsar Desi mengatakan kepengurusan KAHMI di Sulsel membutuhkan sosok pemimpin yang mau berkorban harta dan jiwa untuk mewujudkan masyarakat cita.

“KAHMI di Sulsel butuh sosok pemimpin yang mau dan mampu mewakafkan harta dan jiwanya untuk mewujudkan masyarakat cita KAHMI Sulsel”, katanya.

Menurutnya, tidak perlu bermusyawarah jika yang berkeinginan memimpin KAHMI kedepan masih didominasi oleh orang-orang lama.

“Jika yang mau memimpin KAHMI Sulsel masih itu-itu juga, maka lebih baik tidak ‘usahmi’ (red: tidak perlu) bermuswil”, tutur Natsar yang akrab disapa Aloq.

Natsar Desi Mantan Juru Bicara Makassar Recover itu juga menyarankan agar Muswil digelar dengan mengundi nama, ibarat arisan karena hanya memiliki kemampuan bergerak yang terbatas.

“Dilot (red: diundi) saja namanya seperti orang arisan karena ‘rata-rata airji’ (red: datar) semua kemampuannya bergerak.

Jika gerak KAHMI Sulsel kedepan, sambung Aloq, masih mengandalkan proposal eksternal dalam setiap kegiatannya, tentu sangat mengecewakan karena akan bersaing dengan pengurus HMI di tingkatan komisariat yang jumlahnya ratusan di Sulsel.

“Janganmi maju kalau belum mandiri secara finansial dan tidak bersedia berjuang bersama kaum Mustad’afin. Janganmi juga maju kalau tidak bersedia melawan kepemimpinan nasional yang zholim,” tegas Natsar Desi.

Comment