Potensi Timbulkan Kecelakaan, Badko HMI Kritik Pembangunan Kereta Api Sulsel

MAKASSAR,MENARAINDONESIA.com-Beberapa lembaga kemahasiswaan melakukan kunjungan ke Balai Kereta Api Sulawesi Selatan (Sulsel). Kegiatan ini dalam rangka sosialisasi dan pengenalan fasilitas Kereta Api Maros-Garongkong, Rabu (14/12/2022).

Dalam kunjungan tersebut di hadiri oleh GMKI, HMI dan Beberapa perwakilan BEM Universitas di Makassar.

Kunjungan ini di awali dengan Field Trip dari Kantor Balai Kereta Api di Maros ke Stasiun Garongkong pulang pergi menggunakan Kereta Api percobaan dengan waktu tempuh hanya 2,5 jam. Itu berarti akan hemat waktu 1,5 jam di bandingkan menggunakan kendaraan bermotor/mobil.

Acara tersebut kemudian dilanjutkan dengan Audiensi bersama Kepala balai untuk mendengarkan respon dan masukan dari Mahasiswa terhadap fasilitas Kereta Api yang telah jadi dan akan di oprasikan tahun depan.

Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Andi Ikram Rifqi dalam audiensi tersebut memberikan kritikan dan saran kepada kabalai terkait pengamanan lingkungan sekitaran rel Kereta Api yang masih berpotensi menimbulkan kecelakaan karena belum adanya pagar pembatasnya.

Dimana menurutnya kondisi tersebut bisa menyebabkan masyarakat dan hewan ternak lalu lalang di sekitaran kawasan Rel Kereta.

Ikram juga menegaskan kepada kepala balai agar tenaga kerja yang di butuhkan untuk pengoprasian Kereta Api dan pegawai lainnya di dominasi oleh masyarakat Sulsel.

“Kami berharap agar KaBalai memprioritaskan tenaga kerja dari Sulsel, hal ini untuk mengurangi jumlah pengangguran di Sulsel,” ucapnya.

Selain itu, Ikram juga meminta untuk memberikan pengawasan khusus terhadap pihak ketiga (Perusahaan Outsourcing) yang mengelola tenaga kerja untuk memberikan gaji yang layak bagi pekerja.

“Jangan di potong terlalu sadis dari anggaran yang tersedia,” ujarnya.

Kabalai yang akrab di sapa Gatta menyambut dengan hangat kritikan dan saran dari Ketua Umum Badko HMI Sulselbar.

Gatta lalu menjelaskan, terkait pagar pembatas di sekitaran Rel Kereta Api menurutnya membutuhkan partisipasi dari pemerintah daerah.

“Saya juga berharap, teman-teman mahasiswa agar dapat mendorong hal tersebut kepada pemda setempat yang dilalui Rel Kereta Api dan mengembangkan berbagai macam potensi pertumbuhan ekonomi dari hadirnya stasiun di setiap daerah,” harapnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja, lanjut Gatta menjelaskan bahwa pihaknya telah menekankan kepada pihak ketiga untuk merekrut penduduk setempat menjadi tenaga kerja di stasiun, walapun masih ada beberapa masyarakat yang daftar namun begitu di tes tidak memenuhi syarat kompetensinya.

“Seperti percakapan bahasa inggris dasar saja masih banyak yang belum bisa,” ujarnya.

Ikram juga berharap pembangunan Rel Kereta Api Makassar-Pare-pare untuk bisa rampung dengan segera sebelum 2024.

Dia pun mengingatkan kepada pemerintah agar mengesampaingkan kepentingan politik terlebih dahulu. Sebab, kata ikram Pembangunan Rel ini menjadi tantangan para kepala daerah kabupaten/kota dan Gubernur Sulsel dalam bekerja sama untuk pembebasan lahan dan mengawal pembangunan.

“Apabila tidak rampung Masyarakat bisa menilai daerah mana yang terhambat dan bisa di katakan Kepala Daerah/Kota setempat dan Gubernur Sulsel gagal mewujudkan keinginan masyarakat,” tutup Ikram.

Leave a Reply